Seb
elum menentukan presentasi dan penempatan barang dagangan, kita perlu mengetahui dulu tentang tempat atau area yang merupakan “hot spots, warm spots, dan cold spots” (ramai, sedang, atau sepi) di dalam toko, untuk mengetahui hal tersebut bisa dengan cara mengamati arus lalu lintas konsumen di toko, yaitu kemana konsumen paling banyak dan paling sedikit berjalan di toko. Umumnya area pintu masuk dan area pembayaran (kasir) merupakan area dengan arus lalu lintas konsumen yang paling banyak.
Oleh karena itu, ke dua area ini bisa disebut “area yang ramai”. Sedangkan area lalu lintas konsumen yang tidak begitu ramai bisa digolongkan sebagai “area sedang”. Misalnya, di toko buku yang juga menjual surat kabar, arus lalu lintas utama adalah dari pintu masuk ke rak yang menyimpan surat kabar, kemudian ke tempat kasir. Area ini bisa disebut hot spot (area ramai). Lalu lintas ke dua adalah dari pintu masuk ke bagian tengah atau ke area buku ilmiah di bagian dalam, kemudian ke tempat kasir. Area ini bisa kita tetapkan sebagai “warm spots” (area yang sedang). Sedangkan “cold spot” (area yang sepi) adalah area di luar hot spot dan warm spot (diluar area ramai dan area sedang). Cold spot (area sepi) umumnya berada di bagian sudut atau belakang toko, yang jauh dari dan lalu lintas pengunjungnya sangat rendah.
Di semua area “hot, warm, dan cold spots”, terdapat lokasi pendisplayan barang yang disebut posisi utama display barang, yaitu posisi yang lebih menonjol diantara display semua barang dagangan. Posisi tersebut adalah diantara pinggang dengan mata. Level (posisi) ini penting dalam penempatan barang dagangan untuk memaksimalkan keuntungan toko.
Setelah mengidentifikasi area hot, warm, dan cold spots, dan menentukan posisi utama display barang dagangan, selanjutnya adalah mengatur bermacam tipe barang dagangan untuk ditata secara serasi, sesuai dengan aturan pen-display-an.
Barang dagangan di toko umumnya dikelompokkan menjadi:
• Bestsellers (paling laku)
• High_margin lines (barang dengan tingkat keuntungan yang tinggi)
• Basic lines (barang dasar atau barang utama)
• Accessory lines (barang asesoris)
• Impulse lines (barang yang ringan dan murah harganya)
• Specialty lines (barang khusus atau unik)
• Seasonal lines (barang musiman)
• Assistance lines (barang yang memerlukan penjelasan teknis)
• Advertised lines (barang yang diiklankan)
• Problem stock (persediaan bermasalah)
a) Bestsellers (barang paling laku)
Pada setiap klasifikasi barang dagangan, terdapat sedikit persentase barang yang paling laku. Ini dikenal dengan prinsip 80/20, artinya 80 persen hasil penjualan akan datang dari 20 persen barang dagangan yang ada. Mengetahui produk mana yang merupakan bestsellers dari setiap klasifikasi barang dagangan sangat penting untuk mengoptimalkan penjualan. Ada dua kategori bestsellers, yaitu ongoing bestsellers (bestsellers rutin) dan seasonal bestsellers (bestsellers musiman). Bestsellers rutin adalah bestsellers yang terus berlangsung sepanjang tahun. Bestsellers musiman adalah bestsellers yang dipengaruhi oleh musim atau trend, misalnya barang-barang fesyen.
Untuk meningkatkan penjualan dan laba diperlukan penjualan barang-barang bestsellers sebanyak mungkin. untuk mengoptimalkan barang-barang bestsellers perlu memperhatikan langkah-langkah berikut:
1) Pastikan bahwa barang-barang bestsellers diklasifikasikan secara tepat sehingga konsumen mudah menemukannya.
2) Tempatkanlah barang-barang bestsellers pada “posisi utama display barang” yang berbeda dibandingkan dengan barang-barang yang lain, sehingga barang-barang bestsellers terlihat menonjol.
3) Mengadakan (menyiapkan) persediaan yang cukup untuk memenuhi permintaan. Jangan pernah kehabisan barang-barang bestsellers.
4) Pastikan bahwa barang-barang bestsellers diberi kartu harga yang baik dan dipromosikan.
Barang-barang bestsellers umumnya memiliki laba yang rata-rata (tidak terlalu besar), karena bestsellers umumnya adalah barang yang harganya sedang (tidak terlalu mahal dan tidak murah). Jangan terjebak oleh promosi, karena terkadang promosi akan menimbulkan biaya tambahan dari barang-barang bestsellers itu sendiri. Penting untuk diperhatikan, barang-barang bestsellers tidak perlu semuanya ditempatkan di pintu depan toko, karena konsumen biasanya akan berjalan ke dalam toko dan ke tempat barang-barang dipajang untuk mencari barang-barang bestsellers.
b) High_margin lines (barang dengan tingkat keuntungan yang tinggi)
Pada sebagian besar barang dagangan terdapat beberapa produk yang memberikan laba yang besar. Produk-produk seperti ini berperan penting dari keseluruhan strategi toko. Yang tergolong produk seperti ini adalah barang-barang bermerk, barang eksklusif, barang-barang special (khusus), atau bisa juga barang-barang aksesoris. High-margin lines perlu dipromosikan secara jelas dan ditempatkan di area yang menonjol (tepat) untuk mengoptimalkan penjualan.cara mempromosikan dan menata produk-produk yang seperti ini adalah setelah produk bestsellers di setiap klasifikasi produk. Strategi ini harus menjadi alternatif pertama bagi konsumen yang tidak membeli produk bestsellers.
Produk high-margin harus selalu ada di setiap klasifikasi produk dan diberi kartu harga yang jelas dan bagus. Produk high-margin juga baik untuk ditempatkan di etalase dan di-display di bagian dalam toko. Produk seperti ini dapat membantu memberikan laba yang besar terutama apabila toko bermaksud mengurangi jumlah barang-barang yang sejenis atau mengurangi barang-barang aksesoris. Misalnya, untuk mengurangi beberapa produk di bengkel dan pencucian mobil, kita bisa mempromosikan dan men-display secara menonjol produk high-margin, seperti spon (busa) dan kain lap.
c) Basic lines (barang dasar atau barang utama)
Basic lines adalah barang yang diharpkan konsumen supaya tersedia terus di toko. Barang-barang seperti ini harus tersedia terus menerus karena memiliki pola penjualan yang rutin dan tetap, mengapa? Karena konsumen mengharapkan dan membutuhkannya. Produk-produk dasar (basic lines) tidak boleh kehabisan persediaan. Basic lines mungkin menjadi produk paling laku atau mungkin produk yang penjualannya paling rendah, namun tetap terjual sepanjang tahun. Contoh, basic lines adalah koran di toko majalah dan koran, beras di toko kebutuhan sehari-hari, susu dan roti di toko makanan, apel di toko buah-buahan, oli di bengkel motor/mobil.
Barang basic lines harus ditempatkan diantara klasifikasinya. Beberapa diantaranya bisa memiliki fixture sendiri, misalnya: roti atau susu. Basic lines perlu di tata atau ditempatkan di posisi yang baik diantara kelompoknya, namun tidak perlu ditempatkan di posisi utama toko.
d) Accessory lines (barang asesoris)
Barang aksesoris adalah barang pelengkap atau barang yang berkaitan dengan barang yang lain. Walaupun demikian, apabila ditata secara baik, barang aksesoris bisa berubah menjadi impulse lines (barang ringan dan murah) di antara kelompoknya. Misalnya, di super market. Menempatkan beberapa keju diantara biskuit dapat merangsang pembelian, sedangkan jika keju ditempatkan sesuai dengan klasifikasinya, konsumen mungkin memerlukan banyak pertimbangan untuk membeli.
Penempatan barang-barang aksesoris harus berdekatan dengan atau diantara kelompok barang yang ada hubungannya, tepatnya setelah barang utama. Misalnya, barang seperti busa dan lap kain harus ditempatkan setelah pencucian mobil, semir sepatu ditempatkan diantara display sepatu, atau baterei ditempatkan setelah mainan anak-anak. Jika ditempatkan dengan baik, konsumen mungkin akan membeli barang aksesoris seperti halnya mereka membeli barang utama. Hal ini bias meningkatkan penjualan dan laba toko.
e) Impulse lines (barang yang ringan dan murah harganya)
Impulse lines umumnya dilihat dan dibeli tanpa harus banyak berpikir atau tanpa harus banyak pertimbangan. Impulse lines umumnya adalah barang yang harganya murah dan pergantiannya cepat. Barang-barang impulse harus ditempatkan di lokasi yang gampang terlihat dan mudah diraih. Sebaiknya ditempatkan di area lalu lintas pengunjung yang ramai, terutama di sekitar tepat kasir. Misalnya, permen dan kudapan di bengkel atau di super market, pembatas halaman (pembatas buku) di toko buku, baterai di toko mainan, dan tali sepatu di toko sepatu.
f) Specialty lines (barang spesial atau unik)
Specialty lines biasanya berada dalam pertimbangan pembelian konsumen, maksudnya, konsumen sudah memutuskan untuk membeli sebelum memasuki toko. Umumnya barang-barang seperti ini adalah barang-barang yang mahal dan perawatannya cukup rumit. Konsumen harus sering membaca informasi dan memepertimbangkan opsi-opsi sebelum melakukan pembelian. Barang-barang seperti ini harus ditempatkan agak jauh dari arus lalu lintas konsumen yang tinggi (area yang ramai), dan lebih baik ditempatkan di area yang sepi (cold spots). Alasan utama mengapa barang-barang special perlu ditempatkan jauh dari area lalu lintas konsumen yang tinggi (yang ramai), karena untuk menghindari tekanan dan kesibukan. Juga untuk menyediakan waktu untuk membahas keistimewaan dan kelebihan produk dengan wiraniaga tanpa gangguan yang terus menerus dari lalu lalang konsumen yang lain.
Yang termasuk barang-barang special, daiantaranya adalah: oven microwave, tenda di toko perlengkapan kemping, atau peralatan pengeboran di toko perangkat keras.
g) Seasonal lines (barang musiman)
Seasonal lines adalah barang-barang yang dipengaruhi faktor musim, seperti: pakaian renang, buah kurma di bulan ramadhan, atau kartu lebaran menjelang idul fitri. Penyediaan barang-barang seasonal akan sangat berbeda tergantung kepada tipe toko itu sendiri. Misalnya: toko fesyen (toko pakaian) akan melakukan perubahan besar dari satu musim ke musim lainnya. Berbeda dengan toko aksesoris mobil, mungkin tidak akan melakukan perubahan besar dalam pengadaan barang dagangannya. Pengelompokkan barang-barang musiman akan di mulai dari musim terdekat.
Barang-barang musiman harus mulai dipromosikan diantara kategorinya (kelompoknya) sebelum pergantian musim dan ditempatkan di area lalu lintas konsumen yang tinggi (ramai) di dalam toko. Penyediaan ruang juga harus disiapkan untuk menambah barang-barang musiman dan mengurangi barang-barang yang lain. Aspek penting dari barang-barang musiman adalah perlu adanya perhatian agar persediaan barang harus tersisa sesedikit mungkin apabila suatu musim akan berakhir.
h) Assistance lines (barang yang memerlukan penjelasan teknis)
Barang-barang asistensi adalah barang-barang dimana konsumen membutuhkan bantuan untuk membelinya.. barang-barang tersebut biasanya barang-barang yang relatif mahal dan berisiko terjadinya kerusakan. Barang-barang seperti ini perlu ditempatkan dekat dengan area konter untuk memudahkan wiraniaga mengawasi secara dekat dan siap memberi informasi kepada konsumen.
Umumnya barang-barang ditempatkan di rak atau di fixture yang aman. Yang tergolong barang-barang asistensi, diantaranya: barang-barang elektronik kecil, seperti: kalkulator, kamera. Juga barang-barang seperti pulpen yang mahal, atau kacamata.
i) Advertised lines (barang yang diiklankan)
Periklanan digunakan untuk meningkatkan profil toko dan juga meningkatkan volume penjualan. Tempat untuk barang-barang yang diiklankan sangat tergantung kepada jumlah persediaan dan tergantung kepada besarnya program periklanan tersebut. Umumnya barang-barang yang diiklankan harus dipromosikan diantara kelompoknya. Konsumen akan memperhatikan barang-barang yang diiklankan. Jika persediaan produk banyak, atau periklanannya kecil dibandingkan promosi internal (promosi di dalam toko), barang-barang yang diiklankan selain perlu ditempatkan dengan baik agar terlihat jelas oleh konsumen, juga perlu dipromosikan di area lalu lintas konsumen yang ramai. Pengusaha ritel (toko) umumnya memiliki display promosi di area lalu lintas pengunjung yang ramai. Penempatan seperti ini tidak saja untuk membuat barang lebih diterima oleh konsumen, tetapi juga untuk menambah rangsangan dan membangkitkan minat membeli.
j) Problem stock (persediaan bermasalah)
Problem stock atau persediaan bermasalah adalah persediaan barang yang tingkat penjualannya sangat rendah. Persediaan dari barang yang tidak terjual akan menimbulkan atau menambah biaya pergudangan dan tidak memberi kontribusi pada keuntungan toko. Terdapat beberapa faktor yang dapat mengakibatkan persediaan bermasalah, yaitu:
1) Persediaan barang kadaluarsa. Yaitu persediaan barang dari barang dagangan yang sudah diganti dengan barang sejenis dengan model yang baru (barang baru), atau bungkus yang baru, dan barang yang sudah hampir kadaluarsa berdasarkan tanggal pemakaian/penggunaan.
2) Pembelian yang berlebihan. Ini dikarenakan pemasok berusaha untuk memenuhi persediaan barang dengan menawarkan diskon besar-besaran kepada pengusaha ritel (toko). Bahayanya adalah tidak sesuai dengan kenyataan volume penjualan barang. Misalnya, penjualan di toko sebanyak 20 unit barang per minggu dengan pesanan normal 40 unit per dua minggu. Membeli 1000 unit produk kepada pemasok dikarenakan adanya diskon yang besar bukanlah keputusan yang baik. Hal ini mungkin tidak jadi masalah besar jika pengusaha ritel mempunyai gudang yang luas, produk tidak diganti, atau produk tidak ketinggalan model.
3) Persediaan yang salah. Ini maksudnya, persediaan barang tidak cocok dengan target market. Misalnya, kios koran ditempatkan di jajaran produk aksesoris mobil atau bahan bangunan ditempatkan di toko alat-alat tulis.
4) Pemeliharaan persediaan yang buruk. Hal ini merupakan penyebab utama timbulnya masalah mengenai persediaan barang. Termasuk tidak membersihkan persediaan barang, sehingga barang menjadi pudar warnanya atau barang menjadi kotor. Faktor lainnya adalah tidak adanya pergantian persediaan , sehingga persediaan yang baru terjual sebelum persediaan yang lama. Ini bisa mengakibatkan barang persediaan yang lama kadaluarsa, kotor, atau rusak.
5) Penanganan barang persediaan yang buruk. Dalam hal ini termasuk didalamnya penataan barang yang tidak tepat, misalnya barang yang ringan dan murah (impulse lines) ditempatkan di area yang sepi (cold spots) atau barang special (specialty lines) ditempatkan di area yang ramai. Ini juga termasuk kegagalan dalam melakukan display yang lengkap, tidak memberi kartu harga yang baik, membiarkan persediaan barang kosong, dan membiarkan banyak ruang yang kosong di toko.
6) Penetapan harga yang salah. Ini terjadi karena memberi harga barang yang mahal untuk target market menengah ke bawah atau harga barang terlalu murah, dan kualitas barang yang buruk.
7) Karyawan tidak professional. Dalam hal ini, karyawan tidak mempromosikan barang dagangan, atau lembat menjual barang. Ini umumnya terjadi karena produk terlalu rumit dan karyawan belum mendapatkan pelatihan atau karyawan tidak suka melakukan tugasnya.
untuk mengatasi persediaan yang bermasalah harus dimulai dengan memperbaiki penyebabnya. Pengawasan penjualan barang dagangan sangat penting utnuk mengidentifikasi persediaan bermasalah. Penyebab persediaan bermasalah harus ditemukan dan diselesaikan secepatnya apabila toko ingin memepertahankan penjualan dan laba.
Untuk mengatasi persediaan bermasalah bisa dilakukan melalui cara-cara sebagai berikut:
a) Apabila masalahnya adalah pemeliharaan barang yang buruk atau karyawan yang tidak professional, berilah karyawan pelatihan dan berilah karyawan tanggung jawab untuk membersihkan barang persediaan. Hal ini biasanya akan menyelesaikan masalah.
b) Pastikan bahwa produk sudah diberi kartu harga dan kartu informasi barang yang cukup.
c) Periksalah persaingan harga, dan persediaan barang. Ambil tindakan perbaikan jika diperlukan.
d) Pindahkan persediaan barang ke tempat yang lebih baik diantara kelompoknya.
e) Adakan penggantian barang menggunakan metode FIFO (First In First Out), sehingga persediaan barang yang lama akan terjual sebelum barang yang baru. Ini mensyaratkan penempatan persediaan baru dibelakang persediaan lama di ruang pamer dan di gudang.
f) Jika persediaan belum juga terjual, gunakan promosi atau adakan display di area lalu lintas konsumen yang ramai dengan harga yang normal.
g) Jika persediaan tetap bermasalah, turunkan harga. Menurunkan harga jual barang dagangan harus merupakan upaya yang terakhir, karena hal ini bisa merugikan.
k) Ukuran dan keamanan barang
Ada dua faktor tambahan yang mempengaruhi penempatan barang dagangan, yaitu ukuran dan keamanan barang dagangan. Faktor ukuran produk dan keamanan perlu diperhatikan karena bisa menimbulkan kerugian apabila terjadi salah penanganan. Apakah produk bisa ditempatkan secara “sembunyi”, dan apakah permintaannya cukup tinggi?. Produk-produk seperti ini perlu ditempatkan dekat dengan area konter untuk memudahkan pengawasan. Disamping aspek keamanan, ukuran (besarnya) produk perlu dipertimbangkan ketika memutuskan dimana akan menempatkan produk tersebut di toko. Secara umum penempatan produk yang berhubungan dengan masalah ukuran dan keamanan barang adalah sebagai berikut:
• Barang-barang yang kecil sebaiknya ditempatkan ditempat yang tinggi yang terlihat dan mudah untuk diambil.
• Barang-barang yang besar atau berat sebaiknya ditempatkan/disimpan di bawah untuk memudahkan pengambilannya, dan untuk keamanan, dan kenyamanan.
Selengkapnya...
Arti Warna
About Me
Mesin Pencari
Category
- Catatan Peristiwa (1)
- Catatan Perjalanan (4)
- Desain Grafis (X MM) (1)
- Display (Menata Barang) (3)
- English (1)
- Komunikasi dengan Target Pelanggan (4)
- Kurikulum (1)
- Pagemaker (XIMM) (1)
- Serba-serbi (5)
Blog Archive
Silabus:
1. Menagih Pembayaran
2. Melakukan Konfirmasi Keputusan Pelanggan
3. Melakukan Penyerahan/Pengiriman Produk
4. Perpajakan (Semester 3)
5. Perpajakan (Semester 4)
6. Perpajakan (Semester 5)
TIK
Dari AS ke Mesir, Wanita Katolik Menemukan Islam
Mengapa saya memilih Islam? Saya ingat dengan jelas hari dimana saya resmi menjadi wanita mualaf ….. Selengkapnya
Idris Tawfiq, Mantan Pastor yang Memilih Islam
Sebelumnya, Idris Tawfiq adalah seorang pastor gereja Katholik ……Selengkapnya
Maurice Bucaille tak Ragu dengan Kebenaran Alquran
Penelitiannya tentang Mumi Firaun membawanya pada kebenaran Alquran …Selengkapnya
Sara Bokker, Hidayah Allah untuk Sang Model
….. Seperti umumnya gadis remaja Amerika yang tinggal di
Portal X PM 1
Portal X PM 2
Minggu, Juni 07, 2009
Presentasi dan penempatan barang dagangan
Minggu, April 05, 2009
Seri Display: Store Lay out and Traffic Flow
Store layout and traffic flow
(Denah toko dan arus lalu lintas konsumen)
Toko perlu menyiapkan banyak ruang untuk peningkatan keuntungan secara keseluruhan. Disamping itu toko juga perlu mempertahankan penampilan dan image-nya. Misalnya, toko “murah” harus mempunyai barang yang banyak (penuh) dan di_display dengan baik untuk melengkapi image “murah”, sedangkan secara luas, toko tetap menyediakan produk yang lebih mahal dengan cara mempresentasikan persediaan yang terbatas di ruang pamer toko.
Lay_out toko mencakup lay_out ruang pamer dimana fixture (perlengkapan/alat peraga ditempatkan), fixturing (tipe fixture, seperti: rak kaca, gondola, dan lain-lain yang digunakan untuk menata barang), display, dan suasana toko (perlengkapan toko, pencahayaan, dan pemberian kartu produk). Lay_out toko akan mempengaruhi persepsi konsumen terhadap toko. Hal ini diawali dari toko itu secara keseluruhan, termasuk hiasan-hiasan toko, kartu produk, dan lain-lain. Kemudian berlanjut ke display bagian luar, etalase, pintu masuk toko, bagian dalam toko, sekitar tempat kasir, sampai pitu keluar toko. Kesuluruhan persepsi mengenai lay-aout toko akan mempengaruhi persepsi konsumen mengenai barang dagangan. Ini merupakan hal penting yang harus diperhatikan supaya lay-out toko tampak sepadan atau cocok antara harga dengan kualitas barang dagangan yang dijual.
Salah satu komponen kunci dari lay-out toko adalah penempatan fixture (perlengkapan/alat peraga) yang harus diatur sedemian rupa sesuai dengan alur/arus lalu lintas pengunjung atau konsumen toko. Terdapat dua bentuk lay-out (denah) yang bisa kita gunakan.
Pertama adalah Grid pattern (pola kisi). 
Format ini banyak digunakan untuk supermarket (pasar swalayan) dan merupakan bentuk yang paling efektif untuk bagian terbesar display. Format ini digunakan untuk mengarahkan lalu lintas konsumen secara sistematis di toko dan untuk menunjukkan sebagian besar barang dagangan.
Kedua adalah apa y
ang disebut dengan Free-flow pattern (Pola arus bebas).
Pola ini umumnya digunakan di toko pakaian. Pada format ini, lalu lintas konsumen tidak diatur oleh toko, tetapi konsumen diberi kebebasan kemana arah mereka berjalan keliling di toko untuk melihat-lihat barang dagangan. Pada pola ini, fixture-fixture (alat pajang barang dagangan) ditempatkan secara acak tetapi dengan penonjolan secara individual (tersendiri). Misalnya, display sepasang sepatu casual pria, display pakaian-pakaian trend mutakhir (musim baru).
Ke dua pola lay-out yang telah disebutkan, yaitu pola kisi dan pola arus_bebas memiliki aturan yang relatif tegas dalam membuat denah toko.
Di samping ke dua pola di atas
, tidak seduikit juga para pengusaha menggunakan pola ke tiga, yaitu yang disebut dengan pola gabungan , yaitu kombinasi antara pola kisi dengan pola arus_bebas.
Pola gabungan biasanya digunakan oleh departemen store yang menjual banyak produk , baik dalam jumlah maupun jenisnya., yang “mengharuskan” toko memilih bentuk lay-out yang berbeda untuk masing-masing kelompok produk. Misalnya, area fesyen umumnya menggunakan pola arus_bebas yang memberi kebebasan kepada konsumen untuk berjalan keliling di toko dan melihat-lihat barang dagangan sesuai kehendaknya. Area lain seperti buku dan alat-alat tulis, umumnya menggunakan lay-out pola kisi. Prosuk-produk seperti ini lebih cocok pola kisi karena arus lalu lintas diatur untuk mendorong konsumen bergerak sepanjang “gang (aisles) menuju jajaran produk lain yang berhubungan.
Terdapat kelebihan dan kekurangan dari masing-masing pola. Kriteria utama dalam memilih pola lay-out toko adalah harga dan jenis barang dagangan.
Kelebihan pola kisi, diantaranya:
a) Jajaran produk bisa ditampilkan secara maksimum.
b) Ruang pamer bisa dimanfaatkan secara efektif.
c) Adanya alur pengawasan melalui “gang” apabila konsumen jenuh berada di lokasi produk.
d) Keamanan lebih baik, karena “gang” secara keseluruhan terkontrol melalui kamera, cermin, atau cermin cembung.
e) Memudahkan pembelian bagi konsumen karena barang dagangan ditempatkan secara berutan dan logis.
Kelemahan pola kisi, diantaranya adalah:
a) Susunan barang kaku dan menjemukan.
b) Tidak begitu nyaman bagi konsumen untuk melihat-lihat barang dagangan, terutama kalau sedang padat pengunjung.
c) Susananya terkadang sibuk, dan kontak dengan wiraniaga sangat sedikit.
Sedangkan kelebihan pola arus_bebas, diantaranya:
a) Susananya santai dan terbuka.
b) Nyaman bagi konsumen untuk melihat-lihat barang dagangan.
c) Mudah bagi pemilik toko untuk menonjolkan barang dagangan.
d) Mudah bagi pemilik toko untuk menampilkan display tunggal, maupun display tema.
Kelemahan pola arus_bebas, diantaranya:
a) Umumnya memerlukan karyawan yang memiliki tingkat keahlian yang relatif tinggi (keahlian khusus).
b) Pengawasan keamanan relatif sulit, khususnya di area-area yang “sepi”.
c) Penonjolan barang dagangan terkadang bersifat untung-untungan.
d) Konsumen terlalu banyak membuang waktu atau menjadi bingung dengan barang dagangan apa yang ingin dilihatnya dan yang tidak ingin dilihatnya.
Senin, Februari 23, 2009
Display
MERCHANDISING AND DISPLAY
A. Merchandising
Merchandising adalah suatu cara untuk mempresentasikan produk kepada konsumen , termasuk di dalamnya lay out toko, traffic flow (alur trafik), space allocation (alokasi ruang), penempatan produk, dan display. Merchandising merupakan alat penjualan yang efektif bagi wiraniaga untuk mendorong konsumen berbelanja secara swalayan sesuai dengan display yang sudah direncanakan, praktis, dan logis.
1. Apa itu Merchandising ?
Merchandising adalah marketing dari produk yang tepat, waktu yang tepat, kuantitas yang tepat, dan harga yang tepat. Merchandising yang efektif harus mampu mencapai tingkat penjualan dan laba yang diinginkan.
Produk yang tepat maksudnya adalah praduk yang cocok baik bagi pengusaha (toko) maupun bagi konsumen (konsumen yang ada sekarang dan konsumen potensial yang merupakan target market toko). Sebagai contoh, sebuah butik eksklusif perlu menyediakan produk dari desain ternama dan beberapa produk kreatif untuk konsumen khusus yang merupakan target market, sedangkan toko pakaian untuk kalangan menengah perlu mengadakan produk berupa pakaian massal yang berkualitas untuk pasar yang lebih luas.
Pada waktu yang tepat maksudnya toko harus mempertimbangkan musim, permintaan normal, dan promosi. Misalnya, toko sepatu (terutama toko sepatu untuk wanita) perlu menyediakan sepatu biasa untuk sepanjang tahun, kemudian ditambah dengan sepatu-sepatu berbahan wool atau kulit untuk musim dingin, dan sepatu ringan untuk musim panas. Ragam produk yang disediakan juga harus disesuaikan dengan permintaan khusus dari konsumen di saat-saat khusus seperti tahun baru, idul fitri, dan hari-hari besar keagamaan lainnya.
Tempat yang tepat mengarah kepada lokasi toko dan jenis barang yang dijual. Misalnya, untuk toko yang khusus menjual furniture untuk di luar rumah, biasanya lebih berhasil kalau berlokasi di wilayah perumahan yang memiliki halaman yang luas. Namun apabila berlokasi di dekat apartemen, biasanya toko tersebut tidak akan berhasil. S
Kuantitas yang tepat, maksudnya adalah perlu adanya persediaan yang cukup untuk menghadapi permintaan normal, permintaan periodik, dan puncak permintaan. Misalnya, beberapa produk perlu disediakan lebih banyak di waktu-waktu tertentu seperti menjelang Idul Fitri, dan Tahun Baru. Mempunyai jumlah persediaan yang cukup pada saat-saat normal sangatlah penting untuk memaksimalkan penjualan. Persediaan produk yang cukup perlu diperhatikan untuk melayani penjualan sampai dengan tibanya waktu pengiriman barang oleh pemasok. Kekurangan persediaan bisa mengakibatkan kehilangan penjualan dan kehilangan konsumen.
Harga yang tepat, maksudnya adalah harga produk yang ada di toko harus disesuikan dengan kondisi pasar. Penentuan harga jual produk perlu mempertimbangkan aspek-aspek seperti: nilai uang, kuantitas barang, kebijakan harga, dan persaingan. Sebagai contoh: sebuah toko mainan yang berlokasi di wilayah pedesaan, bisa menetapkan harga produknya berkisar antara Rp. 5.000,00 sampai dengan Rp. 50.000,00. Sedangkan di wilayah perkotaan, harga produk bisa ditetapkan berkisar antara Rp. 50.000,00 sampai dengan Rp. 500.000,00. Persaingan juga mempengaruhi penetapan harga produk. Apabila situasinya memungkinkan, maka harga produk bisa ditetapkan lebih rendah dari kompetitor, ini bisa meningkatkan permintaan dari konsumen. Namun, apabila tidak ada kompetitor, atau permintaan produk sangat tinggi, penetapan harga produk yang lebih tinggi bisa dilakukan dan biasanya bisa diterima oleh konsumen.
Merchandising menyangkut semua faktor di atas, dan apabila dilaksanakan dengan baik bisa meningkatkan penjualan dan keuntungan toko. Hal ini terjadi karena konsumen yang merupakan target market merasa puas atas pelayanan yang diberikan oleh toko. Dalam bisnis eceran, toko-toko yang berhasil memiliki kebijakan merchandising.
Selengkapnya...
Pojok KuRIkulum
ISO 9001 : 2008
AdMeng
Display TP 2009/2010
Display TP 2010/2011
Links (Tautan)
Sertifikasi Guru Jabar
Kemdiknas
Pusat Kurikulum
Direktorat Pembinaan SMK
P4TK Bisnis Pariwisata
NUPTK
Nomor Induk Siswa Nasional
LPMP Jabar
Dinas Pendidikan Kab. Cirebon
SMKN 1 Kedawung Kab. Crb
SMKN 1 Gebang Kab. Crb
Managemen'82 IKIP/UPI Bandung
Down load lagu Indonesia..gratis!
News
