Jumat, Juni 19, 2009

Siapa Bilang Conversation in English Itu Sulit?

Siapa Bilang Conversation in English Itu Sulit?
(Tulisan berseri)

Introduction

Dunia yang mengglobal membawa konsekwensi meluasnya pergaulan dan kontak bisnis melewati batas Negara. Untuk bisa kontak secara internasional tentu harus menggunakan bahasa Internasional. Silahkan pilih mau pakai Bahasa Latin, Perancis, atau yang sudah lama dipelajari, yaitu Bahasa Inggris. Sekedar info, di Negara-negara yang sudah maju, siswa/mahasiswa diharuskan menguasai dua bahasa asing, misalnya latin dengan arab, perancis dengan mandarin, dan seterusnya.

Nah bagaimana dengan kita. Susah ya …. Dua bahasa asing? …wong satu aja …alias ngurusi bahasa Inggris saja …yang nempel dari dulu ..Cuma I Love You (sorry, just kidding).

Belajar Bahasa Inggris tentu saja tidak gampang, terlebih masalah grammar. Biarlah masalah itu jadi tugas guru Bahasa Inggris. Tulisan ini hanya ingin mengajak Anda latihan bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris dengan penggunaan grammar secukupnya alias belajar cas cis cus dalam bahasa Inggris agar bisa survive atau sekedar pingin ngobrol sama bule (oh …ya, kalau ketemu orang barat jangan panggil mereka bule …mereka bisa marah, karena bule terdengarnya bulei. Dalam kamus bulei artinya albino. Nah, karena mereka kulit putih dan bukan albino, biasanya mereka tidak terima atau merasa tidak nyaman).

Sulitkah making conversation in English? Tergantung bagaimana Anda memandangnya. Kalau Anda bilang sulit …pasti sulit, bilang gampang …insya Allah gampang.
Menurut saya sih tidak terlalu sulit …tinggal mau atau tidak …….ha-ha-ha.

Selengkapnya...

Minggu, Juni 07, 2009

Presentasi dan penempatan barang dagangan

Sebelum menentukan presentasi dan penempatan barang dagangan, kita perlu mengetahui dulu tentang tempat atau area yang merupakan “hot spots, warm spots, dan cold spots” (ramai, sedang, atau sepi) di dalam toko, untuk mengetahui hal tersebut bisa dengan cara mengamati arus lalu lintas konsumen di toko, yaitu kemana konsumen paling banyak dan paling sedikit berjalan di toko. Umumnya area pintu masuk dan area pembayaran (kasir) merupakan area dengan arus lalu lintas konsumen yang paling banyak.

Oleh karena itu, ke dua area ini bisa disebut “area yang ramai”. Sedangkan area lalu lintas konsumen yang tidak begitu ramai bisa digolongkan sebagai “area sedang”. Misalnya, di toko buku yang juga menjual surat kabar, arus lalu lintas utama adalah dari pintu masuk ke rak yang menyimpan surat kabar, kemudian ke tempat kasir. Area ini bisa disebut hot spot (area ramai). Lalu lintas ke dua adalah dari pintu masuk ke bagian tengah atau ke area buku ilmiah di bagian dalam, kemudian ke tempat kasir. Area ini bisa kita tetapkan sebagai “warm spots” (area yang sedang). Sedangkan “cold spot” (area yang sepi) adalah area di luar hot spot dan warm spot (diluar area ramai dan area sedang). Cold spot (area sepi) umumnya berada di bagian sudut atau belakang toko, yang jauh dari dan lalu lintas pengunjungnya sangat rendah.

Di semua area “hot, warm, dan cold spots”, terdapat lokasi pendisplayan barang yang disebut posisi utama display barang, yaitu posisi yang lebih menonjol diantara display semua barang dagangan. Posisi tersebut adalah diantara pinggang dengan mata. Level (posisi) ini penting dalam penempatan barang dagangan untuk memaksimalkan keuntungan toko.

Setelah mengidentifikasi area hot, warm, dan cold spots, dan menentukan posisi utama display barang dagangan, selanjutnya adalah mengatur bermacam tipe barang dagangan untuk ditata secara serasi, sesuai dengan aturan pen-display-an.
Barang dagangan di toko umumnya dikelompokkan menjadi:

• Bestsellers (paling laku)
• High_margin lines (barang dengan tingkat keuntungan yang tinggi)
• Basic lines (barang dasar atau barang utama)
• Accessory lines (barang asesoris)
• Impulse lines (barang yang ringan dan murah harganya)
• Specialty lines (barang khusus atau unik)
• Seasonal lines (barang musiman)
• Assistance lines (barang yang memerlukan penjelasan teknis)
• Advertised lines (barang yang diiklankan)
• Problem stock (persediaan bermasalah)

a) Bestsellers (barang paling laku)

Pada setiap klasifikasi barang dagangan, terdapat sedikit persentase barang yang paling laku. Ini dikenal dengan prinsip 80/20, artinya 80 persen hasil penjualan akan datang dari 20 persen barang dagangan yang ada. Mengetahui produk mana yang merupakan bestsellers dari setiap klasifikasi barang dagangan sangat penting untuk mengoptimalkan penjualan. Ada dua kategori bestsellers, yaitu ongoing bestsellers (bestsellers rutin) dan seasonal bestsellers (bestsellers musiman). Bestsellers rutin adalah bestsellers yang terus berlangsung sepanjang tahun. Bestsellers musiman adalah bestsellers yang dipengaruhi oleh musim atau trend, misalnya barang-barang fesyen.

Untuk meningkatkan penjualan dan laba diperlukan penjualan barang-barang bestsellers sebanyak mungkin. untuk mengoptimalkan barang-barang bestsellers perlu memperhatikan langkah-langkah berikut:

1) Pastikan bahwa barang-barang bestsellers diklasifikasikan secara tepat sehingga konsumen mudah menemukannya.
2) Tempatkanlah barang-barang bestsellers pada “posisi utama display barang” yang berbeda dibandingkan dengan barang-barang yang lain, sehingga barang-barang bestsellers terlihat menonjol.
3) Mengadakan (menyiapkan) persediaan yang cukup untuk memenuhi permintaan. Jangan pernah kehabisan barang-barang bestsellers.
4) Pastikan bahwa barang-barang bestsellers diberi kartu harga yang baik dan dipromosikan.

Barang-barang bestsellers umumnya memiliki laba yang rata-rata (tidak terlalu besar), karena bestsellers umumnya adalah barang yang harganya sedang (tidak terlalu mahal dan tidak murah). Jangan terjebak oleh promosi, karena terkadang promosi akan menimbulkan biaya tambahan dari barang-barang bestsellers itu sendiri. Penting untuk diperhatikan, barang-barang bestsellers tidak perlu semuanya ditempatkan di pintu depan toko, karena konsumen biasanya akan berjalan ke dalam toko dan ke tempat barang-barang dipajang untuk mencari barang-barang bestsellers.

b) High_margin lines (barang dengan tingkat keuntungan yang tinggi)

Pada sebagian besar barang dagangan terdapat beberapa produk yang memberikan laba yang besar. Produk-produk seperti ini berperan penting dari keseluruhan strategi toko. Yang tergolong produk seperti ini adalah barang-barang bermerk, barang eksklusif, barang-barang special (khusus), atau bisa juga barang-barang aksesoris. High-margin lines perlu dipromosikan secara jelas dan ditempatkan di area yang menonjol (tepat) untuk mengoptimalkan penjualan.cara mempromosikan dan menata produk-produk yang seperti ini adalah setelah produk bestsellers di setiap klasifikasi produk. Strategi ini harus menjadi alternatif pertama bagi konsumen yang tidak membeli produk bestsellers.

Produk high-margin harus selalu ada di setiap klasifikasi produk dan diberi kartu harga yang jelas dan bagus. Produk high-margin juga baik untuk ditempatkan di etalase dan di-display di bagian dalam toko. Produk seperti ini dapat membantu memberikan laba yang besar terutama apabila toko bermaksud mengurangi jumlah barang-barang yang sejenis atau mengurangi barang-barang aksesoris. Misalnya, untuk mengurangi beberapa produk di bengkel dan pencucian mobil, kita bisa mempromosikan dan men-display secara menonjol produk high-margin, seperti spon (busa) dan kain lap.

c) Basic lines (barang dasar atau barang utama)

Basic lines adalah barang yang diharpkan konsumen supaya tersedia terus di toko. Barang-barang seperti ini harus tersedia terus menerus karena memiliki pola penjualan yang rutin dan tetap, mengapa? Karena konsumen mengharapkan dan membutuhkannya. Produk-produk dasar (basic lines) tidak boleh kehabisan persediaan. Basic lines mungkin menjadi produk paling laku atau mungkin produk yang penjualannya paling rendah, namun tetap terjual sepanjang tahun. Contoh, basic lines adalah koran di toko majalah dan koran, beras di toko kebutuhan sehari-hari, susu dan roti di toko makanan, apel di toko buah-buahan, oli di bengkel motor/mobil.

Barang basic lines harus ditempatkan diantara klasifikasinya. Beberapa diantaranya bisa memiliki fixture sendiri, misalnya: roti atau susu. Basic lines perlu di tata atau ditempatkan di posisi yang baik diantara kelompoknya, namun tidak perlu ditempatkan di posisi utama toko.

d) Accessory lines (barang asesoris)

Barang aksesoris adalah barang pelengkap atau barang yang berkaitan dengan barang yang lain. Walaupun demikian, apabila ditata secara baik, barang aksesoris bisa berubah menjadi impulse lines (barang ringan dan murah) di antara kelompoknya. Misalnya, di super market. Menempatkan beberapa keju diantara biskuit dapat merangsang pembelian, sedangkan jika keju ditempatkan sesuai dengan klasifikasinya, konsumen mungkin memerlukan banyak pertimbangan untuk membeli.

Penempatan barang-barang aksesoris harus berdekatan dengan atau diantara kelompok barang yang ada hubungannya, tepatnya setelah barang utama. Misalnya, barang seperti busa dan lap kain harus ditempatkan setelah pencucian mobil, semir sepatu ditempatkan diantara display sepatu, atau baterei ditempatkan setelah mainan anak-anak. Jika ditempatkan dengan baik, konsumen mungkin akan membeli barang aksesoris seperti halnya mereka membeli barang utama. Hal ini bias meningkatkan penjualan dan laba toko.

e) Impulse lines (barang yang ringan dan murah harganya)

Impulse lines umumnya dilihat dan dibeli tanpa harus banyak berpikir atau tanpa harus banyak pertimbangan. Impulse lines umumnya adalah barang yang harganya murah dan pergantiannya cepat. Barang-barang impulse harus ditempatkan di lokasi yang gampang terlihat dan mudah diraih. Sebaiknya ditempatkan di area lalu lintas pengunjung yang ramai, terutama di sekitar tepat kasir. Misalnya, permen dan kudapan di bengkel atau di super market, pembatas halaman (pembatas buku) di toko buku, baterai di toko mainan, dan tali sepatu di toko sepatu.

f) Specialty lines (barang spesial atau unik)

Specialty lines biasanya berada dalam pertimbangan pembelian konsumen, maksudnya, konsumen sudah memutuskan untuk membeli sebelum memasuki toko. Umumnya barang-barang seperti ini adalah barang-barang yang mahal dan perawatannya cukup rumit. Konsumen harus sering membaca informasi dan memepertimbangkan opsi-opsi sebelum melakukan pembelian. Barang-barang seperti ini harus ditempatkan agak jauh dari arus lalu lintas konsumen yang tinggi (area yang ramai), dan lebih baik ditempatkan di area yang sepi (cold spots). Alasan utama mengapa barang-barang special perlu ditempatkan jauh dari area lalu lintas konsumen yang tinggi (yang ramai), karena untuk menghindari tekanan dan kesibukan. Juga untuk menyediakan waktu untuk membahas keistimewaan dan kelebihan produk dengan wiraniaga tanpa gangguan yang terus menerus dari lalu lalang konsumen yang lain.

Yang termasuk barang-barang special, daiantaranya adalah: oven microwave, tenda di toko perlengkapan kemping, atau peralatan pengeboran di toko perangkat keras.

g) Seasonal lines (barang musiman)

Seasonal lines adalah barang-barang yang dipengaruhi faktor musim, seperti: pakaian renang, buah kurma di bulan ramadhan, atau kartu lebaran menjelang idul fitri. Penyediaan barang-barang seasonal akan sangat berbeda tergantung kepada tipe toko itu sendiri. Misalnya: toko fesyen (toko pakaian) akan melakukan perubahan besar dari satu musim ke musim lainnya. Berbeda dengan toko aksesoris mobil, mungkin tidak akan melakukan perubahan besar dalam pengadaan barang dagangannya. Pengelompokkan barang-barang musiman akan di mulai dari musim terdekat.

Barang-barang musiman harus mulai dipromosikan diantara kategorinya (kelompoknya) sebelum pergantian musim dan ditempatkan di area lalu lintas konsumen yang tinggi (ramai) di dalam toko. Penyediaan ruang juga harus disiapkan untuk menambah barang-barang musiman dan mengurangi barang-barang yang lain. Aspek penting dari barang-barang musiman adalah perlu adanya perhatian agar persediaan barang harus tersisa sesedikit mungkin apabila suatu musim akan berakhir.

h) Assistance lines (barang yang memerlukan penjelasan teknis)

Barang-barang asistensi adalah barang-barang dimana konsumen membutuhkan bantuan untuk membelinya.. barang-barang tersebut biasanya barang-barang yang relatif mahal dan berisiko terjadinya kerusakan. Barang-barang seperti ini perlu ditempatkan dekat dengan area konter untuk memudahkan wiraniaga mengawasi secara dekat dan siap memberi informasi kepada konsumen.

Umumnya barang-barang ditempatkan di rak atau di fixture yang aman. Yang tergolong barang-barang asistensi, diantaranya: barang-barang elektronik kecil, seperti: kalkulator, kamera. Juga barang-barang seperti pulpen yang mahal, atau kacamata.

i) Advertised lines (barang yang diiklankan)

Periklanan digunakan untuk meningkatkan profil toko dan juga meningkatkan volume penjualan. Tempat untuk barang-barang yang diiklankan sangat tergantung kepada jumlah persediaan dan tergantung kepada besarnya program periklanan tersebut. Umumnya barang-barang yang diiklankan harus dipromosikan diantara kelompoknya. Konsumen akan memperhatikan barang-barang yang diiklankan. Jika persediaan produk banyak, atau periklanannya kecil dibandingkan promosi internal (promosi di dalam toko), barang-barang yang diiklankan selain perlu ditempatkan dengan baik agar terlihat jelas oleh konsumen, juga perlu dipromosikan di area lalu lintas konsumen yang ramai. Pengusaha ritel (toko) umumnya memiliki display promosi di area lalu lintas pengunjung yang ramai. Penempatan seperti ini tidak saja untuk membuat barang lebih diterima oleh konsumen, tetapi juga untuk menambah rangsangan dan membangkitkan minat membeli.

j) Problem stock (persediaan bermasalah)

Problem stock atau persediaan bermasalah adalah persediaan barang yang tingkat penjualannya sangat rendah. Persediaan dari barang yang tidak terjual akan menimbulkan atau menambah biaya pergudangan dan tidak memberi kontribusi pada keuntungan toko. Terdapat beberapa faktor yang dapat mengakibatkan persediaan bermasalah, yaitu:
1) Persediaan barang kadaluarsa. Yaitu persediaan barang dari barang dagangan yang sudah diganti dengan barang sejenis dengan model yang baru (barang baru), atau bungkus yang baru, dan barang yang sudah hampir kadaluarsa berdasarkan tanggal pemakaian/penggunaan.
2) Pembelian yang berlebihan. Ini dikarenakan pemasok berusaha untuk memenuhi persediaan barang dengan menawarkan diskon besar-besaran kepada pengusaha ritel (toko). Bahayanya adalah tidak sesuai dengan kenyataan volume penjualan barang. Misalnya, penjualan di toko sebanyak 20 unit barang per minggu dengan pesanan normal 40 unit per dua minggu. Membeli 1000 unit produk kepada pemasok dikarenakan adanya diskon yang besar bukanlah keputusan yang baik. Hal ini mungkin tidak jadi masalah besar jika pengusaha ritel mempunyai gudang yang luas, produk tidak diganti, atau produk tidak ketinggalan model.
3) Persediaan yang salah. Ini maksudnya, persediaan barang tidak cocok dengan target market. Misalnya, kios koran ditempatkan di jajaran produk aksesoris mobil atau bahan bangunan ditempatkan di toko alat-alat tulis.
4) Pemeliharaan persediaan yang buruk. Hal ini merupakan penyebab utama timbulnya masalah mengenai persediaan barang. Termasuk tidak membersihkan persediaan barang, sehingga barang menjadi pudar warnanya atau barang menjadi kotor. Faktor lainnya adalah tidak adanya pergantian persediaan , sehingga persediaan yang baru terjual sebelum persediaan yang lama. Ini bisa mengakibatkan barang persediaan yang lama kadaluarsa, kotor, atau rusak.
5) Penanganan barang persediaan yang buruk. Dalam hal ini termasuk didalamnya penataan barang yang tidak tepat, misalnya barang yang ringan dan murah (impulse lines) ditempatkan di area yang sepi (cold spots) atau barang special (specialty lines) ditempatkan di area yang ramai. Ini juga termasuk kegagalan dalam melakukan display yang lengkap, tidak memberi kartu harga yang baik, membiarkan persediaan barang kosong, dan membiarkan banyak ruang yang kosong di toko.
6) Penetapan harga yang salah. Ini terjadi karena memberi harga barang yang mahal untuk target market menengah ke bawah atau harga barang terlalu murah, dan kualitas barang yang buruk.
7) Karyawan tidak professional. Dalam hal ini, karyawan tidak mempromosikan barang dagangan, atau lembat menjual barang. Ini umumnya terjadi karena produk terlalu rumit dan karyawan belum mendapatkan pelatihan atau karyawan tidak suka melakukan tugasnya.

untuk mengatasi persediaan yang bermasalah harus dimulai dengan memperbaiki penyebabnya. Pengawasan penjualan barang dagangan sangat penting utnuk mengidentifikasi persediaan bermasalah. Penyebab persediaan bermasalah harus ditemukan dan diselesaikan secepatnya apabila toko ingin memepertahankan penjualan dan laba.

Untuk mengatasi persediaan bermasalah bisa dilakukan melalui cara-cara sebagai berikut:
a) Apabila masalahnya adalah pemeliharaan barang yang buruk atau karyawan yang tidak professional, berilah karyawan pelatihan dan berilah karyawan tanggung jawab untuk membersihkan barang persediaan. Hal ini biasanya akan menyelesaikan masalah.
b) Pastikan bahwa produk sudah diberi kartu harga dan kartu informasi barang yang cukup.
c) Periksalah persaingan harga, dan persediaan barang. Ambil tindakan perbaikan jika diperlukan.
d) Pindahkan persediaan barang ke tempat yang lebih baik diantara kelompoknya.
e) Adakan penggantian barang menggunakan metode FIFO (First In First Out), sehingga persediaan barang yang lama akan terjual sebelum barang yang baru. Ini mensyaratkan penempatan persediaan baru dibelakang persediaan lama di ruang pamer dan di gudang.
f) Jika persediaan belum juga terjual, gunakan promosi atau adakan display di area lalu lintas konsumen yang ramai dengan harga yang normal.
g) Jika persediaan tetap bermasalah, turunkan harga. Menurunkan harga jual barang dagangan harus merupakan upaya yang terakhir, karena hal ini bisa merugikan.

k) Ukuran dan keamanan barang

Ada dua faktor tambahan yang mempengaruhi penempatan barang dagangan, yaitu ukuran dan keamanan barang dagangan. Faktor ukuran produk dan keamanan perlu diperhatikan karena bisa menimbulkan kerugian apabila terjadi salah penanganan. Apakah produk bisa ditempatkan secara “sembunyi”, dan apakah permintaannya cukup tinggi?. Produk-produk seperti ini perlu ditempatkan dekat dengan area konter untuk memudahkan pengawasan. Disamping aspek keamanan, ukuran (besarnya) produk perlu dipertimbangkan ketika memutuskan dimana akan menempatkan produk tersebut di toko. Secara umum penempatan produk yang berhubungan dengan masalah ukuran dan keamanan barang adalah sebagai berikut:
• Barang-barang yang kecil sebaiknya ditempatkan ditempat yang tinggi yang terlihat dan mudah untuk diambil.
• Barang-barang yang besar atau berat sebaiknya ditempatkan/disimpan di bawah untuk memudahkan pengambilannya, dan untuk keamanan, dan kenyamanan.

Selengkapnya...

Selasa, Juni 02, 2009

Manohara akhirnya berhasil pulang


Sebelumnya banyak orang yang tidak tahu siapa Manohara Odelia Pinot, tetapi ketika Ibunya yaitu Daisy Fajarina mengungkapkan nasib anaknya yang mengalami KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) ke publik, masyarakatpun terbelalak …keget …prihatin …marah …dan lain sebagainya. Ini hanyalah satu contoh kasus kekerasan yang menimpa warga Negara Indonesia di luar negeri. Perlindunganh pemerintah terhadap WNI yang ada di luar negeri disinyalir masih sangat lemah.

Menurut berita di infotainment TV (sekali-kali nonton infotainment biar enggak jenuh karena dicekoki terus dengan berita pilpres), Manohara berhasil kembali ke Indonesia hari Minggu 31 Mei 2009 dari Singapura setelah bersama suami Tengku Temenggong Muhammad Fakhry Petra dan rombongan kesultanan Kelantan bezuk mertuanya yang dirawat
di sebuah rumah sakit di Singapura. Dari wawancara dengan sebuah televisi swasta, Manohara menyampaikan kekecewaannya kepada Kedubes RI di Singapura, karena ketika dia telpon untuk minta tolong, salah seorang staf KBRI mengatakan: ‘Maaf mbak, hari ini hari libur ……..’ (rupanya ‘penderitaan’ harus kompromi dengan hari libur ….menggelikan). Akhirnya pertolongan datang justru dari Kedubes Amerika dan Polisi Singapura.

Sementara itu tidak sedikit pihak yang meragukan cerita Manohara dan Daisy Fajarina, Ratna Sarumpaet adalah salah seorang diantaranya. Berikut pendapatnya ketika diwawancara oleh sebuah surat kabar seperti yang dimuat di kompas.com:
“Jangan tertipu air mata yang berderai. Kita harus membuka mata lebar-lebar atas setiap permasalahan. Kalau memang benar Manohara pernah mengalami penyiksaan , mestinya dia kering dan bukannya segar bugar seperti itu,”
Jika memang Manohara pernah mengalami ketidaknyamanan atas perlakuan Fakhry, lanjut Ratna, Manohara harus bisa membuktikannya di depan publik. “Kita jangan mudah tertipu. Ini masalah negara. Kita juga harus ingat di sana (Malaysia) ada ribuan warga kita yang jadi TKI. Jangan karena satu orang yang berbohong, yang lain dengan jumlah lebih banyak mendapat perlakuan lebih tidak enak,”
(Ratna beberapa hari lalu memutuskan mencabut dukungannya kepada Deasy Fajarina, ibunda Manohara. “Waktu saya minta datang ke Polda dengan membawa bukti-bukti penyiksaan yang dialami Manohara, dia tidak datang dan berkelit macam-macam. Timbul pertanyaan, ada apa sebenarnya ini?”)
Terlepas dari pro dan kontra, Manohara sekarang sudah kembali ke keluarganya di Jakarta. Mudah-mudahan kasus-kasus seperti ini tidak terulang. Banyak kasus kekerasan yang menimpa orang Indonesia di Malaysia. Tapi perlu digarisbawahi bahwa sebetulnya kasus Manohara adalah kasus rumah tangga yaitu adanya perlakuan buruk dari suami (begitu menurut pengakuan Manohara) terhadap istri dan hubungan yang buruk antara mertua dengan menantu. Karena ini masalah keluarga, harus disikapi dengan hati-hati jangan sampai meluas menjadi ‘percekcokan’ antar Negara. Karena kalau itu terjadi tentu saja akan merugikan banyak pihak, terlebih mengingat hubungan Indonesia-Malaysia belakangan ini memang kurang harmonis akibat manuver Angkatan Laut Diraja Malaysia yang melanggar wilayah RI di sekitar Ambalat. Juga bisa dijadikan komoditi politik untuk merebut simpati rakyat demi kepentingan pilpres juli mendatang.
Dari hingar bingarnya berita mengenai Manohara Odelia Pinot, salah satu pelajaran penting yang bisa dipetik, yaitu menikah muda (Manohara berusia 16 tahun waktu dinikahi oleh Tengku Fakhry) adalah sebuah keputusan yang tidak bijaksana, karena walau bagaimanapun secara psikologis bisa dipastikan mentalnya belum siap. Usia 16 tahun adalah usia remaja. Usia remaja dengan segala romantikanya tentu saja bukan usia yang tepat untuk melangsungkan pernikahan. Cukup memprihatinkan memang, Manohara dan ibunya yang nota bene berpendidikan tinggi bisa mengambil keputusan seperti itu. Tidak heran jika sebagian orang berpendapat keputusan tersebut banyak dipengaruhi oleh pertimbangan materi dan status sosial. Disamping itu perbedaan budaya yang cukup tajam antar ke dua bangsa (kesultanan tentunya masih mempertahankan gaya feodalistik) menjadi kendala yang tidak kecil.
Mudah-mudahan kasus ini bisa diselesaikan dengan baik dan tidak berlarut-larut, sehingga sumber daya bangsa dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah-masalah yang tidak kalah rumit seperti kemiskinan, pendidikan, ekonomi, dan kesehatan yang membuat sebagian besar rakyat Indonesia belum juga sejahtera sampai sekarang.

Selengkapnya...

Australia (Ausie)

Pre-Departure


Kesempatan ke luar negeri akhirnya datang, pada tahun 1998 tepatnya tanggal 4 Mei 1998, saya dipanggil ke Jakarta untuk mengikuti persiapan pelatihan ke luar negeri, yaitu mengikuti program ‘pre-departure’..

Program ini waktunya 6 bulan, yaitu dari 4 Maret sampai dengan 8 Juli 1998.


Saya harus belajar segala macam: Vokasional, Bahasa Inggris, dan Budaya Australia. Pelatihan yang cukup berat karena setiap minggu selalu diadakan tes, khususnya tes kesehatan dan bahasa Inggris. Kalau bahasa Inggris nya dianggap tidak ada kemajuan, besoknya dipulangkan.
Pesertanya dari seluruh Indonesia, jumlahnya 60 orang dan dibagi dalam dua kelompok, 30 orang akan di kirim ke Sydney (termasuk saya di dalamnya) sisanya ke Brisbane.
Baru beberapa bulan berlangsung, beberapa orang peserta ada yang dipulangkan karena alasan kesehatan dan bahasa Inggris. Peserta pengganti kemudian datang bergabung.
Program ini sangat melelahkan dan menegangkan. kami semua jadi seperti saudara, bahu membahu, dan saling membantu supaya tidak ada lagi yang dipulangkan ke daerah asalnya hanya gara-gara bahasa Inggris.

Disamping itu, program ini tak terlupakan karena secara tidak sengaja saya terbawa oleh keadaan jadi saksi sejarah reformasi, termasuk tragedi mei 1998 didalamnya. Ketika hari-hari pertama demonstrasi mahasiswa menuntut reformasi, saya sedang ada di sekitar sarinah Jakarta, di radio terdengar orang tua mengirimkan pesan buat anak-anaknya yang sedang sekolah supaya jangan pulang sebelum dijemput oleh orang tua mereka. Karena pada waktu itu angkutan umum mogok dan hp belum ada, jadi mereka mencoba telpon ke stasiun radio untuk menyampaikan pesan kepada anak-anaknya.

Dengan perasaan tegang, saya menyaksikan tank baja dan panser di mana-mana. Bahkan pada waktu mahasiswa menduduki gedung MPR, dan mahasiswa dikejar-kejar polisi saya sempat melihatnya lewat kaca jendela bis. Jakarta ‘chaos’.

Saya miris. Betapa tidak, pada waktu berangkat belajar bahasa Inggris (saya tinggal di asrama P3GK Sawangan Bogor, sedangkan pelatihan bahasa Inggrisnya di Sarinah Jakarta. Tiap hari diantar jemput oleh sebuah bis) saya lihat toko-toko masih berdiri utuh, begitu pulang banyak toko hancur dibakar massa.

Menteri pendidikan pada waktu itu sampai ganti tiga kali. Soeharto akhirnya menyerah pada tuntutan rakyat yang menghendaki dia untuk tidak lagi menjadi Presiden. Masyarakat melampiaskan kegembiraannya. Harapan baru akan Indonesia yang lebih baik muncul di mana-mana.

Saya dan yang lain sempat berpikir, kalau jadi ke Australia apakah nanti bisa pulang lagi? Mengingat rezim pemerintahannya ganti dan suasana masih belum menentu.

Setelah lulus mengikuti program ‘pre-departure’ pada bulan Agustus, kami semua dipulangkan dahulu ke daerah masing-masing untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan.

Awal September 1998 kami dipanggil kembali ke Jakarta untuk diberangkatkan ke Australia. Di sana kami tinggal selama setahun (dari September 1998 – Agustus 1999)

Tiba di Sydney

Alhamdulillah, di pagi hari .kira-kira pukul 5.45 waktu setempat, pesawat Garuda Indenesian Airways yang saya tumpangi mendarat di bandara Internasional Kingsford-Smith Sydney, Australia. Sebelum kami turun dari pesawat, petugas imigrasi dan kesehatan Australia masuk ke dalam pesawat, kemudian menyemprotkan sesuatu disetiap sudut ruang pesawat dan bahkan didepan hidung penumpang. Mereka sangat ketat untuk urusan seperti itu. Mereka tidak mau ada penumpang membawa penyakit atau virus ke negaranya.

Setelah turun dari pesawat, saya dan kawan-kawan (rombongan Indonesia jumlahnya 30 orang), mengambil tas masing-masing dan berjalan keluar bandara. Tentu saja kami harus melalui pemeriksaan dari petugas bandara. Ya ampun , petugasnya kekar-kekar dan bertato. Banyak yang rambutnya di kepang dan pakai piercing, pokoknya penampilannya mirip preman, tapi cara kerjanya professional.

Di luar bandara, kami dijemput oleh salah seorang coordinator program namanya John Arneil (bebeapa bulan kemudian, saya baru tahu kalau yang namanya John di Australia jumlahnya banyak sekali). Dengan menggunakan bis kami dibawa ke sebuah hotel (lebih tepat disebut hostel) bernama Glenn ferry, terletak dipinggiran Sydney dengan pemandangan dan alam yang segar serta bahan bangunannya sebagian besar dari kayu.
(Bersambung …..)
Selengkapnya...

Jumat, Mei 22, 2009

Pemutih Gigi Alami

Ramuan Pemutih Gigi Alami

Ingin gigi Anda lebih putih? Ramuan ajaib buatan sendiri ini bisa membuat gigi kita lebih putih berkilau. Dan dijamin pasti ekonomis.
Rahasia dari metode pemutih gigi murah buatan sendiri adalah malic acid yang merupakan zat yang bisa menghilangkan noda pada permukaan gigi. Hilangkan "noda" kopi, soda, dan minuman lainnya pada gigi dengan ramuan dari campuran stroberi dan soda kue. “Cara cepat dan murah untuk mencerahkan senyum Anda,” ujar Adina Carrel, DMD, dokter gigi dari Manhattan Dental Arts di New York City.
Bahan: 1 (satu) buah stroberi matang dan ½ sdt soda kue.

Cara membuat:
1. Hancurkan stroberi sampai menjadi bubur, lalu campurkan soda kue hingga merata.
2. Setelah ramuan selesai, aplikasikan ke seluruh gigi dengan menggunakan sikat gigi. Diamkan selama 5 menit.
3. Bersihkan gigi dengan air sampai bersih, gunakan benang gigi untuk membantu menghilangkan biji-biji stroberi.
4. Lakukan 1 x seminggu, karena penggunaan berlebih merusak email gigi kita akibat kandungan asam yang terdapat dalam stroberi.
(Sumber: Kompas.com, 21 Mei 2009)
Selengkapnya...

Minggu, Mei 17, 2009

Seri Komunikasi: Verbal Communication

Verbal Communication

Whether responding to customers, other staff or visitor to the store, giving accurate and logical information is vital to ensure that a professional and positive image is projected. Answering questions well depends on how well you have listened and what knowledge you have. The accuracy of your response does not necessarily mean knowing the answer. It may mean saying you don’t know, but will find the information.

The worst response you can give is one that is not true or you are not really sure of. Whether selling a product, advising other staff, or dealing with suppliers, the same rule applies. A good technique to use is to stop and think about the question and how to answer before responding, particularly with more difficult questions.
Questions you receive on the job are many and varied, so developing your knowledge not only for products and services but also for general information is important. People who ask questions expect either answer or to be provided with information that leads them to find the answers. Whenever you reply to an inquiry containing one or more questions, answer all questions --- stated or implied. For example, a customer asking a salesperson whether the store has a particular brand of product implies that the customer wants to see the goods and is interested in buying. If the salesperson were just to answer ‘Yes, we do have that brand’ and left it at that, the sale would usually be lost. A prospective customer’s reaction to an incomplete reply is likely to be unfavourable. The customer may think you are careless or purposely trying to conceal a weak spot. In general, ‘omissions cast suspicions’, whether you are answering an enquiry about a product or recommending an appropriate way for another staff member to complete a job.
If you have no information on a particular question, you must say so clearly, instead of omitting to answer. If you have unfavourable information in answer to a question, handle your with both tact and honesty.
Customers expect staff working in any type of retail environment to be able to provide them with clear and accurate information. Failure to do this can lead to a loss in credibility and customers. When describing services it is important to stick to the point of what the customer has asked and add rather than withhold any information. All information given must be relevant and accurate.
Your role as a salesperson also requires the reporting of a number of different matters to management. You must be certain of your facts and report clearly and accurately. Most verbal reports or explanations will be regarding routine matters. When you need to report on these matters there are a number of steps that you need to remember in order for the report to be clear and concise. These are:
• Determine the purpose of the report and who the report is for. This will assist you to focus on the required content.
• Collect the necessary information to fulfil the requirements and purpose of the report. This may mean reviewing other material like record books, etc.
• Organize the material in your mind just as you would if you were writing it down.
• Present the information logically and clearly so that it flows and makes sense to the listener, ensuring all the relevant information is provided.
• Speak slowly and clearly and watch the listeners’ reactions to gauge their understanding.
• Stick to facts initially and then if discussion takes place you may offer opinions at that stage.
Good communication means talking with people at a level they feel comfortable with and understand. This is particularly the case with customers. When communicating with customers, other staff or visitor to the store is important to remember that your level of expertise may be above theirs. To ensure communication is effective you must talk to them at a level appropriate to their understanding. This does not mean talking to them like you would children, but means explaining information that may not be apparent or providing background information so they understand the information better. It may be that the visitor has a high level of understanding, which means you can put in more technical information. If you spoke simply to this type of person he or she is likely to switch off because of lack of interest.
Selecting a level entails watching for reactions, listening carefully to what the person says, which will give you clues as to their knowledge and asking appropriate questions to ascertain their level of knowledge. One example may be that of a new staff member asking for advice on a procedure. Just in the fact that he or she is asking would indicate a low level of knowledge on the procedure; however, it does not mean he or she has a low level of knowledge overall. If the procedure had to do with money handling, the newcomer may not be sure of it or may be comparing it with the way he or she did it at a previous job. An appropriate question initially to find out your colleague’s level would be to ask whether he or she has handled money before.
If you are unsure of someone’s level, ask a question and gauge the response. Jargon, technical terms and even ‘shop talk’ only serve to confuse those from outside the environment. These terms must be avoided to minimize confusion and maintain an environment where people feel comfortable. Sticking to simple terms is the easiest way to avoid confusing people. A new representative coming into the store for the first time ad being told the orders are done by the ‘system’ may not know whether that involves a person, position or machine. Saying orders are done automatically by the computer system makes it very clear and easy to understand.
Selengkapnya...

Selasa, April 07, 2009

Tunjangan Profesi Guru

Tunjangan Profesi Guru Tidak Akan Dibatalkan

Surabaya: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, tidak ada pembatalan tunjangan profesi guru, seperti yang selama ini diberitakan. Penegasan ini disampaikan Presiden SBY saat menghadiri silaturahim dengan 4.500 guru peserta program Untukmu Guruku 2009 Jawa Pos di Basketball League Arena, Kompleks Gedung Pers Graha Pena, Surabaya, Jumat (3/4) malam.

Diceritakan, satu jam sebelum meninggalkan Jakarta untuk mengikuti KTT G-20 di London, Presiden SBY mengadakan rapat terbatas di Bandara Halim Perdanakusuma. "Saya adakan rapat itu karena saya mendengar ada berita yang tidak benar, yang mengatakan seolah-olah tunjangan profesi guru akan ditiadakan. Itu tidak benar. Tidak ada pembatalan untuk tunjangan profesi guru," seru SBY.

Pemerintah akan terus konsisten untuk meningkatkan kesejahteraan guru, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan penerimaan negara. "Salah satu yang kita lakukan adalah, kemampuan guru kita tingkatkan. Program sertifikasi kita jalankan agar kesejateraan guru terus meningkat," ujar SBY.

"Ngomong-ngomong, ini sudah hampir tahun kelima tapi gaji Pak SBY belum pernah naik. Tidak apa-apa, yang penting yang lain naik dulu. Utamanya para guru, PNS golongan satu, dua, dan lain-lain. Orang seperti saya nanti saja," lanjutnya, disambut tempuk tangan semua undangan.

Kepada para guru Presiden SBY berpesan agar menjadi guru plus. "Tidak hanya menjadi guru yang nasehat dan omongannya diterima dan dijalankan murid-muridnya, tetapi lebih hebat lagi kalau bisa berinovasi dan mencetak prestasi. Itu namanya guru plus, guru yang digugu dan ditiru, plus berprestasi," ujar SBY.
Hadir dalam acara tersebut antara lain, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Mendiknas Bambang Sudibyo, Gubernur Jatim Soekarwo, Menkominfo M. Nuh, dan Mensesneg Hatta Rajasa. (Sumber: www.presidensby.info/index.php/fokus/2009/04/03/4170.html)
Selengkapnya...

Minggu, April 05, 2009

Seri Komunikasi: Context, Feedback, and Barriers to Communication

Context

As a receiver decodes a message he or she attaches a meaning (context) to the words and signal received using his or her own experiences and background. This context, as long as the receiver attaches the same meanings as those of the sender, will ensure the correct understanding of the communication. If the context varies, problem occurs. These can be sorted out by using feedback and refining the communication until both the sender and receiver are ‘on the same wavelength’ as shown in the figure.



Feedback

For communication to be successful it is necessary for feedback to occur from both the receiver and the sender. Feedback from the receiver and the sender is important to ensure that the message is understood. The receiving and giving of feedback can be a continuous process until the sender and the receiver are satisfied that the communication is clear and both have a common understanding. As each piece of feedback is received, the message is refined, added to and sent back for verification or more information to be added.


Barriers to communication

As can be seen from the communication model, the communication process in theory appears to be relatively simple. However, the experience of our day-to-day communications with people shows us that in reality this simple process is fraught with difficulties, in particular, barriers and breakdowns. Some of the more common of these include:

  1. Badly expressed message. In the retail environment customers may not have a full understanding of what they want, so they tend to struggle or give incorrect information. The role of the salesperson in these circumstances is to assist and make it easier for the customer. It may also be a case of poor language skills, for example.
  2. Inappropriateness in level or content for the listener. This is a trap that very knowledgeable salespeople can fall into when trying to impress customers with their vast knowledge of products. This, more often than not, can lose a sale by confusing the customers, making them feel inadequate or just stupid. Gauging customers’ level of knowledge and understanding is relatively easy by watching and listening for their reactions to what you are saying.
  3. Failure to communicate all the messages. This tends to occur when we make assumptions that people have a certain level of understanding when it comes to basic information and so we leave it out.
  4. Rambling. Giving too much information or going off on tangents is just a bad as not giving enough information.
  5. Inattention. There are probably a million reasons for not paying attention; the point is, if you miss anything you may lose the sale, particularly if a customer notice your inattention.
  6. Impatience. In the retail environment, which is often rushed with a thousand and one jobs to do; salespeople can sometimes forget their priorities, especially with the pressure of getting all those other jobs completed. The important point is that all the other jobs are connected to customers. If you start treating them poorly or rushing them, pretty soon you will have all the time in the world for the other jobs because there will not be any customers left.
  7. Semantics. Words can have different meanings to different people. For example, saying ‘I’m mad about my flat’ can have vastly different meanings depending on previous experience, culture, education, etc. is ‘mad’ overjoyed or angry? Is ‘flat’ an apartment or a tire? We need to remove the ambiguity by providing extra information. This can be achieved quite simply: ‘I’m mad about my flat tire’. Never make assumptions that customers understand our meaning or we really understand theirs.
  8. Critical attitudes. These are generalizations that can affect the way we treat and therefore communicate with people. For example, having the attitude that all school children steal when in shops could quickly lose sales and other customers if this sort of attitude became apparent.
  9. Timing. Communicating at the right time is critical. Whether we are a sender or a receiver, if things like noise, our feelings or what the other person is doing is going to affect the understanding, we need either to wait or to control these things before we start the communication.
  10. Losses by transmission and retention. When giving information we must consider how a person is going to remember. There are many circumstances in retailing where how we send a message (transmission) and how much the person will remember (retention) will be adversely affected if we don’t do anything about them. For example, when sending a message, choosing the appropriate means, whether verbal, written or combination, will be more successful than just one means, particularly if the message is complex. For example, when selling a customer electrical equipment like a sound system, only using information given verbally may overload the customer, or just giving the customer a brochure may indicate that you are not really interested. Providing both would be the preferable transmission of the information and assist with retention because the customer has written information as well.
  11. Noise. This may be in the form of aural noise like traffic noise or music that is too loud. It may also be anything that interferes with the communication process.

Selengkapnya...

Seri Display: Store Lay out and Traffic Flow

Store layout and traffic flow
(Denah toko dan arus lalu lintas konsumen)

Toko perlu menyiapkan banyak ruang untuk peningkatan keuntungan secara keseluruhan. Disamping itu toko juga perlu mempertahankan penampilan dan image-nya. Misalnya, toko “murah” harus mempunyai barang yang banyak (penuh) dan di_display dengan baik untuk melengkapi image “murah”, sedangkan secara luas, toko tetap menyediakan produk yang lebih mahal dengan cara mempresentasikan persediaan yang terbatas di ruang pamer toko.

Lay_out toko mencakup lay_out ruang pamer dimana fixture (perlengkapan/alat peraga ditempatkan), fixturing (tipe fixture, seperti: rak kaca, gondola, dan lain-lain yang digunakan untuk menata barang), display, dan suasana toko (perlengkapan toko, pencahayaan, dan pemberian kartu produk). Lay_out toko akan mempengaruhi persepsi konsumen terhadap toko. Hal ini diawali dari toko itu secara keseluruhan, termasuk hiasan-hiasan toko, kartu produk, dan lain-lain. Kemudian berlanjut ke display bagian luar, etalase, pintu masuk toko, bagian dalam toko, sekitar tempat kasir, sampai pitu keluar toko. Kesuluruhan persepsi mengenai lay-aout toko akan mempengaruhi persepsi konsumen mengenai barang dagangan. Ini merupakan hal penting yang harus diperhatikan supaya lay-out toko tampak sepadan atau cocok antara harga dengan kualitas barang dagangan yang dijual.

Salah satu komponen kunci dari lay-out toko adalah penempatan fixture (perlengkapan/alat peraga) yang harus diatur sedemian rupa sesuai dengan alur/arus lalu lintas pengunjung atau konsumen toko. Terdapat dua bentuk lay-out (denah) yang bisa kita gunakan.


Pertama adalah Grid pattern (pola kisi).

Format ini banyak digunakan untuk supermarket (pasar swalayan) dan merupakan bentuk yang paling efektif untuk bagian terbesar display. Format ini digunakan untuk mengarahkan lalu lintas konsumen secara sistematis di toko dan untuk menunjukkan sebagian besar barang dagangan.



Kedua adalah apa yang disebut dengan Free-flow pattern (Pola arus bebas).

Pola ini umumnya digunakan di toko pakaian. Pada format ini, lalu lintas konsumen tidak diatur oleh toko, tetapi konsumen diberi kebebasan kemana arah mereka berjalan keliling di toko untuk melihat-lihat barang dagangan. Pada pola ini, fixture-fixture (alat pajang barang dagangan) ditempatkan secara acak tetapi dengan penonjolan secara individual (tersendiri). Misalnya, display sepasang sepatu casual pria, display pakaian-pakaian trend mutakhir (musim baru).

Ke dua pola lay-out yang telah disebutkan, yaitu pola kisi dan pola arus_bebas memiliki aturan yang relatif tegas dalam membuat denah toko.


Di samping ke dua pola di atas, tidak seduikit juga para pengusaha menggunakan pola ke tiga, yaitu yang disebut dengan pola gabungan , yaitu kombinasi antara pola kisi dengan pola arus_bebas.

Pola gabungan biasanya digunakan oleh departemen store yang menjual banyak produk , baik dalam jumlah maupun jenisnya., yang “mengharuskan” toko memilih bentuk lay-out yang berbeda untuk masing-masing kelompok produk. Misalnya, area fesyen umumnya menggunakan pola arus_bebas yang memberi kebebasan kepada konsumen untuk berjalan keliling di toko dan melihat-lihat barang dagangan sesuai kehendaknya. Area lain seperti buku dan alat-alat tulis, umumnya menggunakan lay-out pola kisi. Prosuk-produk seperti ini lebih cocok pola kisi karena arus lalu lintas diatur untuk mendorong konsumen bergerak sepanjang “gang (aisles) menuju jajaran produk lain yang berhubungan.


Terdapat kelebihan dan kekurangan dari masing-masing pola. Kriteria utama dalam memilih pola lay-out toko adalah harga dan jenis barang dagangan.

Kelebihan pola kisi, diantaranya:

a) Jajaran produk bisa ditampilkan secara maksimum.

b) Ruang pamer bisa dimanfaatkan secara efektif.

c) Adanya alur pengawasan melalui “gang” apabila konsumen jenuh berada di lokasi produk.

d) Keamanan lebih baik, karena “gang” secara keseluruhan terkontrol melalui kamera, cermin, atau cermin cembung.

e) Memudahkan pembelian bagi konsumen karena barang dagangan ditempatkan secara berutan dan logis.

Kelemahan pola kisi, diantaranya adalah:

a) Susunan barang kaku dan menjemukan.

b) Tidak begitu nyaman bagi konsumen untuk melihat-lihat barang dagangan, terutama kalau sedang padat pengunjung.

c) Susananya terkadang sibuk, dan kontak dengan wiraniaga sangat sedikit.

Sedangkan kelebihan pola arus_bebas, diantaranya:

a) Susananya santai dan terbuka.

b) Nyaman bagi konsumen untuk melihat-lihat barang dagangan.

c) Mudah bagi pemilik toko untuk menonjolkan barang dagangan.

d) Mudah bagi pemilik toko untuk menampilkan display tunggal, maupun display tema.

Kelemahan pola arus_bebas, diantaranya:

a) Umumnya memerlukan karyawan yang memiliki tingkat keahlian yang relatif tinggi (keahlian khusus).

b) Pengawasan keamanan relatif sulit, khususnya di area-area yang “sepi”.

c) Penonjolan barang dagangan terkadang bersifat untung-untungan.

d) Konsumen terlalu banyak membuang waktu atau menjadi bingung dengan barang dagangan apa yang ingin dilihatnya dan yang tidak ingin dilihatnya.



Selengkapnya...

Rabu, Maret 11, 2009

The elements of Communication Process

The sender and the receiver

We have two major rules in the communication process. At time we have the responsibility of being the sender/encoder. At other times we have the responsibility for being the receiver/ decoder. While both roles have distinct responsibilities, each is dependent on the other for effective communication to be established and maintained. As a sender our responsibility are to:
• Be sure what we want to say before we say it (think clearly);
• Put the information into a logical order, sift out the important from the unimportant, be precise and to the point;
• Arouse and maintain the listener’s interest by introducing what we are going to convey in a manner that catches the listener’s interest, keep on track and provide the right amount of information for the listener;
• Us a vocabulary level and terminology that the listener will understand ;
• Encourage feedback;
• Watch for non-verbal cues from the receiver (e.g. disinterest, puzzlement).
The sender also needs to be aware of the necessity to choose the appropriate time to convey the message. For example, people who are preoccupied, angry or worried will not be particularly receptive to a message. It may, if circumstances permit, be more effective to wait until their frame of mind is such that they are able to ‘hear’ your message properly. As a receiver our responsibilities are to:
• Stay tuned in to the entire message. Focusing on the speaker will ensure we receive all the message by picking up the tone and inflection given to the message and therefore fully understanding what is being said;
• Evaluate what we actually hear, not what we think we hear. We all have biases toward people which can affect listening effectively-more simply; the person speaking may have a weird haircut. These can often influence our understanding if we prejudge the speaker. We may also fall into the trap of only listening for what we want to hear;
• Clarify points that we are unsure about – if in doubt ask a question;
• Respond and give feedback by stating what our understanding of the message is and what action we will take;
• Use our eyes to watch for non-verbal cues, as well as listening to the words.

Channel

The way we choose to send a message is called the channel. We have the option of verbal communication that is, talking to the receiver, written communication in the form of a letter or memo, visual communication by diagram or picture, and non-verbal communication using gestures. When selecting a channel we need to consider the message it self. If the message is long and complex it may require a combination of all channels for an understanding to be achieved the receiver of the message. A simple message may only require the verbal channel. There are other considerations, of course; the intended receiver may not be available, so written communication may be more practical, that is, leaving a note. The means of transmission may differ according to circumstances. For example, instead of talking face to face, you may choose to use the telephone, or write a message via computer rather than with pencil and paper.
Matching the channel to the message is vital for ensuring effective communication. To give a simple but extreme example, think of how you would communicate danger to someone about to turn on an electrical appliance you know is faulty and that could electrocute him or her. Your options are to write a memo quickly or draw up a sign, to make frantic gestures and imitate someone being electrocuted or just simply to yell at them to stop. Depending how you felt about the person (this may be a barrier to communication) your answer should have been the verbal ‘yelling’ option which is immediate and therefore gets the quickest and most desired result. The main determination for using a channel that will assist the communication to be understood and be effective is to ask yourself ‘which channel will get the message across and received clearly and unambiguously?. In almost all cases the answer should be ‘all of them – and preferably at the same time!’. Bear in mind, however, that too much information can be just as bad as too little. Selengkapnya...

Contact Form

Name
Email Address
Subject
Message
Image Verification
Please enter the text from the image
[ Refresh Image ] [ What's This? ]

aditif domain hosting